Minggu, 07 Juni 2009

ADVENTURE TO CIREMAI MOUNT With margapala

Tingginya gunung berwarna biru dari barat membuat kami sebagai seorang petualang sejati tergugah harmoni kejauhan. Kami adalah sekelompok pelajar SMA yang masih ingusan belum tau mana setan mana ketan dan mana orang ,Brebesan asli loh !!! Kami mulai cerita dari jaman Kang Harto yaitu SMAN 02 Brebes, dari situ kami berkumpul moci bersama dalam bahagia, ceria seperti orang gila baru bangun tidur, beleknya mulur memulai legenda kami.

Enaknya langsung aja, Begini yah… kami itu ber-delapan sebaya, pemain basket lebih tiga gitu loh….?

Di bawah kepala bapak geng bendera 1.8 (sidji wolu), kami yang berikat merah kembang-kembang tuju rupa di pergelangan tangan dan diberi klambi ijo-ijo cap Margapala, Kami gagah kegagahen itu karena tas kami yang hanya pass untuk bawa buku pelajaran saja. Kami bawa buat bawa Supermi garing rasa ayam panggang “wah ora enak rek”, padahal batire yg lain membawa tas ransel yg besar-besar banget, Banyak klawer-klawere loh!!! dadine enyong malu banget.

Kami Pede abis khususnya Bapak kepala geng 1.8 (Mbambang Sunarjo)”Woh ndesani, lucu yakin sung” bayangkan “jangan mikir jorok loh?” bisane, karena kami hanya bawa sempak satu-satunya doang dan tidak ada penggantinya. Udahlah jangan pikirin yg penting kita lanjut…!! Oke….!!! Baiklah, maaf intermezo dulu tadi.

Kami hanyalah anak mamalia biasa, bukannya anak spesialis kebo korban Idul Adha, Betul..!! Kami yakin di bawa truk sek-sekkan “Wong akeh di creky ning siji trek” Kami pasrah saja, berlapang dada, toleransi, teposliro dan berdoa serta ikhtiar “Amiiin kuadrat orang beriman”

Sesampainya di sana di kaki bukit mlendung setitik kami memulai…..? “Engko ndisit” lupa, sebelumnya kami solat dulu sebagai seorang yang beriman dan bertakwa, tapi banyu wudune atis yeh, Sebelum berangkat, kami ber-delapan nguyuh ndisit. Baiklah, kita lanjut legenda Kang Harto itu.

Kami memulai perjalanan dari pinggir sawah sampai tengah sawah, kami belum sampai di pos pertama air minumnya habis dilahap kami dan pada khususnya Bapak kepala geng, Kami mulai lagi saja aja deh, di balik punggung yg berkulit merah batu bata muncul makhluk mamalia berambut kriting “Cilik maning” rupanya ia tim panitia Margapalanya-loh, Maaf jika kami menyinggung perasaan bapak tadi “Sorry banget-lah”. Kami berlanjut dan berlalulah hati yg riang tadi. Dengan kaki-kaki yg kuat, tubuh yg kekar berkulitkan emas”geseng” kami menaiki bukit kembar, bukan bukitnya yg kembar tapi pohonnya yang kembar dan medannya yang seperti Aceh “Waduh kangelan-lah”

Tak kukira sampai juga di pos pertama dengan begitu mudahnya, karena hari mulai terik dan kami tak tau pukul berapa waktu itu, perut kami lapar dan Bapak kepala geng 1.8 memutuskan musyawarahnya dengan tak ada mufakat tapi sepakat “menggodog emi” tadi ber-delapan di dalam panci yg kami tak tau warna “Bokong” panci yg seksi itu “iya, klalen”. Merebusnya di sebuah warung yg tua dan sunyi senyap hanya suara air, gemuruh anginpun menyambutnya, semilir rambut terurai Bapak kepala geng terurai penuh gemulai terlihat menawannya saat keringat dari lehernya keluar begitu deras yg sedang makan mie rebus tadi barusan.

Tepat pukul berapa sang Detektif profesional swasta panitia Margapala menyuruh untuk melanjutkan kembali, kami sih ya’ asyik-asysik aja, asal ia ng’ga nyenggol gua wetaw !!! kami panjat lagi deretan perawan-perawan asli, murni, “nesih ceslah” dan deretan pepohonan pisang menyambut perjalanan legenda kami, tak ada satupun suara yg mulai berguyon tapi suara desahan romantis dan penuh nafsu lembutnya air yg dahaga mengiringi karena mulai sulitnya medan yg kami hadapi, dari akar pohon sampai mulus dan seksinya tubuh batang yg menjorok ke dalam, itu semua karena melewati jalan air yg curam, penuh bekas lahar panas, curam dan terjal bagi semut hitam yg kecil banget dan licin dan lumuten dan bukan lagi “angele” dari “tai manuk” sampai “wong tai wong” tidak bisa bertahan menahan gravitasi E=M.C2 pasti ngglinding tiba adoh embuh entute, sampai-sampai tak bisa dengar “entute” Bapak kepala geng yg merdu tapi sunyi senyap karena “mrembes” ke dalam “dua bolongan katok bolong”.

Sebelum kami di pertengahan jalan yaitu pos ke dua di KUBURAN KUDA, ternyata salah satu anggota tetap dari kami Masrahmat namanya, mengalami kaki kram, waduh kamipun kerepotan khususnya “Mamase” yang bertukar tas ringan dengan tas Masrahmat yg berat lebih berat dari pada berat“mamase”. Kami lanjut saja, Masrahmatpun meronta-ronta kesakitan hingga pohon-pohon pinus dan pohon “Karangan” lainnya ikut bersedih dengan pahlawan kami ini tapi untunglah kami mampu juga tiba di Kuburan kuda dengan selamat, dunia dan akherat kami puji syukur terutama Ustade 1.8 karena ia langsung melaksanakan solat dengan bertayamum dan menjamak pula solatnya, di situ kami memasak mie rebus, itu karena waktu itu sudah mulai petang dan sang jangkrik-pun mulai mengingkrik, suasana-pun mulai mencekram dengan kaki dan tangan gemetar. Sang Bapak kepala geng yg memasak mie rebusnya dengan kompor yg barusan di pinjamnnya, untunglah kami bisa bersantap pembukaan seorang musafir yg tengah kelaparan. Kami langsung saja menyikat habis mie “digarang” itu walaupun perut terasa mual ingin muntah tapi untuk terlihat menghormati jasa Bapak kepala geng kita, kami diam saja dan kami kunci mulut yg mulai pecah-pecah akibat dinginnya malam dan “Asrepnya” mie rebus tadi “Wah emong maning” dari bawah dari tanah kuburan kuda terlihat panitia Margapala sudah mulai melanjutkan perjalannya petang dan gelap di sekitar kami, mereka sedang merayap dengan memegang akar-akar yg menjorok tadi.

Di tengah kegelapan kami lihat keluar di sekitar Gunung Ciremai terlihat kota-kota dan desa-desa mencolok berkelipan di mata bagaikan bunga mekar tapi bacin di cium karena dingin dan gelapnya malam. Kami lihat jika dalam keadaan sedang gelap punggung bukit yg halus penuh jerawat,panu, kadas kurap, kami raba hanya terlihat lagi gelap dan lagi-lagi gelap tak sampai-sampai hingga kakipun terasa pegal-pegal, linu-linu, encok-encok (kabeh pada bae) kami setiap hanya jarak kurang lebih 100m kami istirahat, menelentangkan seluruh tubuh yg mati rasa dan sama dengan dinginnya tanah bukit yg mungkin kalau kita injak bisa seperti es krim, jangan jauh-jauh mengkhayal karena tak mungkinlah, disitulah kami mencari tempat yg cukup datar untuk istirahat dan tidur, ada yg tidur dibalik akar yg besar dan sela-sela tanah berlubang, kami tidur berpeganggan dengan akar-akar yg mungkin mampu untuk menahan gravitasi.


Tak terasa mata ini mulai memberat bagai batu kali yg beratnya sampai 5 kilo tapi kami tetap saja tak bisa tidur karena dinginya malam. Maka kamipun membuat api yg lumayan unggun walaupun dari sampah-sampah mie rebus dan kayu-kayu beserta daun-daun yg sudah tua berserakan, kami menghangatkan dri meskipun hanya sekejap terasa panas ditubuh karena sudah semakin larutnya malam, kamipun tak berpandang bulu lagi kami tidur seadanya tanpa tikar, tanpa tenda. Kami seperti mayid layu yg berserakan ditanah hutan yg lumayan rindang dan liar. Semakin larut malam berlalu semakin dingin suasana baik angin maupun tanah tersebut. Mata terpejap tetapi awang-awang tetap berada mengkristal di tengah hutan, bukan lagi hal yg lucu, legenda di mulai di sini setiap beberapa menit di balik kegelapan, peserta lainya melewati kami seperti lampion-lampion yg hampir padam tertelan gelapnya malam,suara-suara bergelintingan dari belakang,tas mereka seperti kerbau yg membajak sawah membuat kami tak bisa tidur tapi tak sadar kamipun akhirnya tidur juga.

Keesokan harinya kami lanjutkan kembali, badanpun terasa segar bugar karena suasana yg mendukung di tengah hutan yg bersiut-siutan burung-burung liar bersamaan dengan perjalanan kami. Tapi sebelumnya kami melihat sebuah nisan, sebuah kuburan seseorang mati setelah mendaki Ciremai, dengan hiasan bunga abadi(edelwayes) terasa menyedihkan, bagaimana perasaan orang tuanya yg menerima mayid yg sudah tak utuh lagi, itu membuat kami terasa ikut berduka dengan memandang nisan dan sekitarnya terasa gaib, membangunkan bulu kuduk kita, disitu juga kami berfoto untuk mengenangnya. Selain di sekitar kuburan tersebut terlihat indah kota-kota dan panorama yg mengelilingi Gunung Ciremai.

Karena untuk mencegah terserangnya kami oleh flu maka kami menempelkan plester di hidung yg diolesi minyak kampak “dekene manekane bapak kepala geng 1.8”. Oh, panasnya dihidung tapi hidung makin terasa dingin dan lembab bahkan sering keluar ingusnya berulang kali, bapak kepala gengpun menyuruh kami untuk segera bersiap-siap berangkat melanjutkan perjalanan kami.

Sehabis selesai berkemas-kemas dengan seperti tentara kutub kami lanjutkan kembali petualangan yg penuh resiko itu. Segeralah kami melanjutkan perjalanan dengan melihat-lihat lingkungan sekitar kami dengan bermata tajam memperhatikannya. Mungkin hanya setiap 1 km kami beristirahat, cek-cok para lelembut bangsat itupun mulai bermunculan ada yg sudah tak mampu lagi, ada yg sudah pasrah namun semua itu dapat kami selesaikan dengan melanjutkan kembali perjalanan kami.

Dari kejauhan akhirnya kami bertemu dengan orang-orang yg barusan turun dari puncak Ciremai. Kami selalu tanya padanya “Apakah masih jauh puncaknya?” Pasti mereka bilang “Lumayanlah”, kamipun tak putus asa menjalankannya demi mencapai puncak Ciremai. Banyak jalan bahaya yg kami lalui karena sudah semakin tinggi posisi kami terhadap kaki bukit, rata-rata di setiap sudutnya sudah tampak jurang-jurang yang sungguhan mulai mengangah. Kamipun mulai hati-hati di sini apalagi sebelum tiba di puncak, kami harus melewati jalan setapak yg penuh batu-batu yg bila di injak bisa membuat jatuh dan mungkin kami bisa terbunuh olehnya.

Dan penuh puji syukur atas kehadirat rahmatnya kami sampai juga di puncak. Di sana kami berfoto-foto menurut keinginan masing-masing individu. Terasa ringan badan kami bagaikan melayang di atas awan. Di kejauhan tingginya puncak, kami dapat melihat betapa besarnya lubang kawah yg mengangah di bawah sana.

Tapi hanya sekejap kami di puncak, kira-kira pukul setengah dua belas siang tepat, kami turun kembali. Masalah timbul di sini, kami kekurangan persediaan air untuk turun sampai di kaki bukit sampai-sampai kami meminta-minta pada orang yg mungkin banyak persediaan air minumnya. Di sini kami haruslah memakai sandal jepit agar kami tak terluka semua jari-jari kaki kami.kamipun turun bukit yg terakhir mengesankan kami dengan pemandangan dari atas bukit bertingkat-tingkat, sayur mayur beserta jalan setapaknya yg kami anggap indah untuk di foto.

Allhamdulillah sampai juga di perakhiran petualangan Legenda kami yg selesai di depan Linggar Jati.


Tim 1.8 :

Bambang, Ditha, Sulung, Rastono, Kusnodo, Rohmat, Abror, Diantoro, A.N.Rokhadi