Minggu, 07 Juni 2009

ADVENTURE TO KUMBANG MOUNT

Senin adalah hari pemberangkatan kami untuk melaksanakan petualangan di Gunung Kumbang, berada di Kabupaten Brebes tepatnya di desa Cisere dusun Salagading. Pada hari itu di Sekolah kami sedang ada kegiatan Class meeting dengan acara-acara yg sangat menyenangkan tapi tim kami yaitu tim Sidji wolu (1.8) rela untuk meninggalkan acara itu. Di hari itu juga kami mengalami kebingungan yg sangat sulit sekali yaitu pada hari itu kami belum mendapatkan tenda dan ada juga anggota dari tim kami ada yang mengundurkan diri, padahal jam sebelas kami harus melaksanakan perjalanan dari rumah. Dengan usaha yg keras kami mencari tenda tapi tetap saja tak ada hasilnya, jadi kami berangkat tanpa membawa tenda. Akhirnya pada jam setengah dua belas, kami berangkat dari Base camp kami yaitu di rumah Nok Sulung. Pada waktu pemberangkatan anggota tim yg ada sejumlah 8 orang, yaitu saudara kang Bambang, nok Sulung, lik Kirun, yu Ditha, wa Rastono, tong Dono dan juga pak ustad Nasihin, ora ketinggalan pak polisi india sing gagah dewek yaitu Tomos / Tomi.


Setelah jam setengah tiga kami tiba di rumah Nasihin di desa Baros kec. Ketanggungan untuk pamit kepada jasake Nasihin tapine ora olih dikarenakan mendaki gunung Kumbang terlalu berbahaya. Akhirnya kami terpaksa berangkat dengan tujuh orang.

Dalam perjalanan menuju desa Cisere, kami bertemu dengan teman se-SMA, di antaranya adalah mbak Atun sing wuss anune dan nok Yayah sing manis melebihi manise gula batu dicampur sirop rasa melon. Dengan bertemunya dengan teman se-SMA menambah semangat kami yg tadinya lentur dikarenakan ceramah jasake Nasihin.

Setelah jam setengah lima kami sampai di ujung desa Cisere dan kami disuruh turun dari mobil bak-bakkan dikarenakan jalan menuju kaki Gunung Kumbang sangat morak-marik, jadi terpaksa kami jalan kaki dengan membawa perlengkapan kami. Dalam perjalanan ini kami merasakan lelah yg tak bisa dibayangkan. Kamipun mulai bingung karena hari mulai gelap dan suara guntur mulai terdengar selain itu kami juga kehabisan persediaan air, saat itu kami berada di tengah jalan hutan dan kami belum menemukan perkampungan.

Setelah jam enam lebih lima belas, polisi india melihat perkampungan dari jarak jauh, kamipun gembira lan senang. Setelah kami tiba di dusun itu kami langsung bertemu dengan polisine desa itu untuk meminta ijin nginep. Di rumah polisine kami disuguhi minuman dan beraneka jajanan, hanya sekejap mata makanan itu di sikat habis sampai-sampai polisine menggeleng-gelengkan endase.

Setelah olih ijin kami di suruh untuk nginep di Balai dusun, kamipun menjadi senang. Di dusun itu tidak ada listrik, jadi kami memakai lilin untuk penerangan. Tampaknya hal itu membuat lik Kirun tersiksa, sehingga ia keluar malam-malam untuk mencari film sing apik. Kamipun tidur, tapi ternyata di antara kami ada bencoleng-bencoleng yg sedang main kartu, tapi akhirnya mereka tidur juga.

Setelah sapi-sapi kelaparan merong-rongkan suranya, kamipun bangun dan melihat sang surya sudah menampakan sinarnya. Kamipun segera MCK di sungai yg penuh dengan tlepong sapi dan juga “Usus” yg berceceran, jadi kamipun bersemangat. Anak perempuan di sana berpakaian ala kadarnya yaitu hanya dengan sarung, jadi seluruh barang berharga tidak ketutupan semua. Pemandangan itu sangat menarik bagi kami karena dapat digunakan untuk pemicu senam tongkat.

Pada jam setengah delapan kami mulai bersiap-siap untuk melakukan perjalanan ke puncak Gunung Kumbang, dan kami disuguhi mie rebus setengah mentah yang di buat oleh kang Bambang. Setelah itu akhirnya kamipun berangkat menuju puncak Gunung Kumbang dengan langkah yg hati-hati sekali dan di iringi oleh rasa takut dikarenakan ada mitos yang menyebutkan bahwa “jika ada orang yg menginjakan kakinya di tanah larangan yg ada di Gunung Kumbang, maka orang itu tidak akan bisa kembali lagi”, walaupun begitu kami terus melanjutkan pendakian kami, tetapi pada saat di tengah pendakian, saudara ustad Rastona merasakan gataran-getaran mistis, jadi kami memberhentikan pendakian dan istirahai di pinggir sungai yg kering. Kami di sungai yg kering itu sampai beberapa jam, malah kami tidur siang di sungai yg kering itu. Setelah hampir sore, kami berkemas untuk perjalanan turun. Setelah di pertengahan perjalanan, kami berencana memasak mie tetapi rantamnya saudara kang Bambang ketinggalan di atas dan dia sangat marah dan jengkel.

Setelah sampai di perkampungan kami berencana untuk bermalam di atas suatu bukit, kamipun mendirikan terpal untuk di jadikan tenda yg sangat wagu. Beberapa menit kemudian tenda kami yg lucu dan wagu di kunjungi oleh anak-anak dari desa setempat yang sengaja menaiki bukit untuk melihat para Petualang sejati yg akan beristirahat. Kejadian itu di manfaatkan oleh lik Kirun untuk mengajak anak-anak itu berguyon ria. Lik Kirun juga mengajarkan lagu Cicak rowo kepada anak-anak tersebut. Kamipun mengajak para bocah-bocah itu untuk berfoto bersama. Karena hari mulai gelap, kami menyuruh para bocah-bocah itu untuk menuruni bukit dengan di temani oleh lik Kirun dan ustad Rastono.


Setelah hari mulai gelap angin bertiup sangat kencang, mungkin itulah yg di sebut dengan angin kumbang. Kami semuapun menjadi takut, di sana kami tidak bisa melakukan apa-apa. Malah pada waktu solat maghrib salah satu anggota kami terpental karena besarnya angin. Debu dan pasir berterbangan dan saudara lik Kirun solat dengan berkacamata hitam dan memakai kupluk, seolah-olah akan konser Jamrud. Kami di sana tanpa ada penerangan dan masakpun tak bisa, mungkin karena pergerakan angin lebih cepat daripada sore tadi. Setelah beberapa jam kami bersepakat untuk menuruni bukit itu dan dengan meninggalkan barang-barang kami. Kami berencana untuk mengambil barang kami ke esokan harinya.

Kamipun mulai menuruni bukit tersebut dengan sangat hati-hati, waktu itu hari sangatlah gelap dengan di temani oleh angin-angin yang sangat besar dan membawa banyak debu juga rasa angin itu sangatlah dingin, karena pada saat itu kami berada di atas desa. Langkah demi langkah kami lewati, walaupun dengan sangat hati-hati, tetap saja di antara kami ada yang jatuh dan terperosot ataupun yang sebagainya. Di tengah jalan yang gelap dan jalan yang hanya lebarnya setapak kami lewati dengan penuh resiko. Mungkin itulah klimaks dari petualangan kami di Gunung Kumbang. Dalam perjalanan kami di ingatkan oleh lik Kirun untuk selalu mengingat sang maha pencipta. Dalam hati kami hanya ada satu kata “ALLAHU AKBAR”, hampir kurang lebih tiga jam kami berjalan tanpa penerangan dalam medan yg terjal dan berundag-undag. Akhirnya berkat rahmat dan pertolongan-nya lah kami sampai di pedesaan dengan selamat.

Setelah sampai di dusun Salagading, kami melanjutkan malam mencekram itu di sebuah tempat yg di gunakan penduduk sekitar untuk solat. Kami menggunakan tempat itu untuk singgah kami sementara karena Balai dusun yg kami tempati kemarin ternyata sudah di kunci oleh polisi desa, karena kami sudah memesan pada polisi desa itu bahwa kami akan bermalam di atas bukit. Di malam itu kami tidak bisa tidur nyenyak karena kami masih trauma karena kejadian itu dan karena berisiknya suara-suara sapi dan kebo yg merong-merong. Hal itu akhirnya membuat lik Kirun tersiksa, dan akhirnya ia kluyuran untuk mencari film sing apik. Dan ada juga dari kami yang ingin ngising, jadi kami menemaninya untuk membelah hutan. Setelah semua anggota berkumpul, kamipun bersiap-siap untuk tidur, tetapi ada beberapa makluk yg masih mendopok dan moci di antara kami, jadi kami sangat terganggu oleh suara-suara yg tidak beriman itu. Tak terasa, akhirnya kamipun tidur juga dengan di temani angin yg lebih dingin dari kemarin.

Pagipun tiba dengan lambannya kami berjalan ditemani dengan hawa dingin pegunungan demi mengambil barang-barang dan perlengkapan kami yg kami tinggal di atas bukit malam tadi. Dan kami melihat keadaan di atas sana sungguh menakutkan. Tenda dari terpal yg kami pasang sebelum malam itu ternyata sudah jatuh terkena angin, untung saja terpal itu masih di ikat ke sebuah batang kayu sehingga terpal itu tidak terbawa angin. Kompor yang terbuat dari kalengpun ikut lenyap terbawa angin, sepatu milik polisi india-pun ikut menjadi korban, sandal-sandal tak berdosa dan kaos kaki yg malangpun ikut menjadi korban keganasan angin dari Gunung Kumbang. Kamipun mengemas barang-barang kami, salah seorang dari anggota kami harus kehilangan kaos kakinya karena terkena api yang dinyalakan kang Bambang untuk memasak mie rebus dan ia pun merelakan kepergiannya. Sebelum kami menuruni bukit itu kami berfoto-foto terlebih dahulu untuk mengenang pemandangan di Gunung Kumbang untuk yg terakhir kalinya.

Sekitar jam setengah delapan pagi, kami berangkat untuk pulang dari Gunung Kumbang. Tapi sebelum itu kami sarapan di sebuah warung yg di huni oleh beberapa makluk dari planet yg hidup di sekitar Gunung Kumbang. Kami terpaksa makan sarapan itu di pinggir jalan dan saling pandang memandang dengan sapi dan kebo dan juga merasakan bau segar tlepong sapi dan kebo yg masih anyar. Akkirnya kamipun melakukan perjalanan pulang dari Gunung Kumbang dengan perasaan lelah dan kesel karena telah melakukan perjalanan yg sangat mendebarkan dan mengasikan di iringi dengan perasaan riang dan senang.


Setelah jam sebelas, kami tiba di rumah polisi india. Kami makan siang di sana di lanjutkan dengan ndaweg, “alangkah nikmatnya”. Apalagi di susul dengan hidangan dari paris “rujak petis”. Setelah di sana kami solat dhuhur kamipun pulang to home dengan hati tenang dan peace.



Tim 18

Bambang S, Sulung, Kusnodo, Sindi, Ditha, Rastono, Tomy, Nasihin