Senin, 15 Juni 2009

ADVENTURE TO SLAMET MOUNT

P

endaftar yang masuk ke dalam anggota tim kami memang banyak waktu itu, kira-kira lebih dari sepuluh orang. Kamipun siap menyiapkan segala sesuatu yang akan di bawa untuk perbekalan petualangan ini. Kami sudah siap menunggu hari keberangkatan dan senang karena hari itu akan segera tiba.

Gunung Slamet adalah karya yang tegak tinggi menjulang di bawah langit yang saat itu tidak seperti biasanya pada bulan-bulan cerah, itulah tujuan dari tim 1.8 yang untuk kesekian kalinya dalam petualangan-petualangan kami. Haripun semakin datang dan satu-persatu anggota yang mendaftar menyatakan tidak mampu untuk mengikuti petualangan kami, kamipun hampir putus asa karena itu, tapi dengan semangat untuk memperoleh bekal cerita di masa depan, kami siap melangkahi segala sesuatu yang kira-kira menjadi ranting untuk penghalang di depan kami.

Hari-pun jatuh di depan kami, dengan kaki yang kuat, kepala yang tegak, tenaga yang tersiapkan, darah yang mengalir begitu deras, tas yang sedikit berat dan sedikit canda yang menyelimuti ruangan. Kami siap melakukan petualangan yang kemungkinan beberapa hari lagi akan ku tulis di dalam catatan dalam bukuku ini, dan akan menjadi cerita yang nyata di antara Aku dan teman-temanku.

Namaku …….. , mungkin itu tak penting tapi teman-temanku sering memanggilku Si nok. Mungkin itu nama yang aneh, tapi …… itulah kata-kata yang sering muncul di depanku. Sambil menunggu beberapa temanku, aku berbaring sambil memikirkan “Apakah sudah ku sampai di puncak sana?!!”. Pandangan yang melihat pandanganku yang berada di puncak sana-pun tidak bertahan lama ketika kulihat sebuah suara yang sudah pasti ku dengar setiap hari, bahkan setiap jam, atau mungkin setiap menit. Ya , itu adalah suara langkah berat dari seorang yang mungkin semangat menghadapi segala sesuatu yang akan terjadi di depan matanya. Dialah Bambang, seorang temanku yang seperti orang biasanya. Berbadan agak besar, tegak, rambut agak merah dan bergelombang lagi kusut, dan kulit yang sedikit… tapi sepertinya tak putih. Jalannya tegak memandangku dengan penuh perhatian,

“Apakah yang lain sudah datang ?”

terdengar sesuatu dari antara bibirnya yang kurang menafsukan itu berkata seperti itu. Ku jawab dengan kata-kata singkat yang ku usahakan agar dapat ku tulis di catatanku ini dengan memuaskan,

“Belum…”

Sesaat setelah menyatunya Bambang dengan ruanganku, tak sedikit waktu yang berjalan datanglah seorang yang tinggi, berkacamata, berambut agak berdiri tapi tak begitu berdiri dengan wajah yang kecil dan agak putih yang setelah ku ketahui bayangannya dan tampak cahaya dari dalam ruanganku yang mengelus-eluskan wajahnya sehingga tampak kontras sebuah cahaya yang setara dengan anime yang sering ku lihat di televisiku yang kurang lebih sudah berada di dalam ruanganku selama lebih dari beberapa hari tapi kurang dari

lima tahun, dan setelah bola mata milikku menyampaikan pesan ke otakku, ku ketahui dia adalah seorang temanku yang tak lama kemudian ku ketahui namanya yang berbunyi A.N.R, tak sendiri dia datang, dengan seorang temannya yang belum ku kenal namanya, tapi sudah ku ketahui ciri-cirinya yang memang sudah ku kenal, dan ku kenal dia setelah temanku yang pertama kali datang mengatakan bahwa dia adalah EKO.W.S

Kamipun sempat mengecek perlengkapan dan aku masih sempat mengepak barang-barang milikku yang biasa aku gunakan untuk menemani petualanganku yang pernah ku lakukan sewaktu Kaligua, G.Kumbang, Pengasinan aku jelajahi. Perlengkapanpun masuk tapi jadwal menunggu kami masih berlanjut di temani dengan canda yang mengiringi kata-kata mereka yang masih bisa ku dengar, dan tiba-tiba tanpa kami dan ku sadari datanglah seorang yang sangat istimewa, bahkan luar biasa hebatnya saat dia melakukan sesuatu tindakan yang benar-benar di luar kemampuan teman-temanku yang saat aku duduk tak lama di kelasku yang waktu itu berada di kelas dua tujuh. Ya… dia memang tergolong unik, tapi menurutku itu biasa-biasa saja, mungkin karena pendapatku berbeda denggan pendapat teman-temanku jadi aku berteman dengan dia seperti layaknya seorang teman biasa. Dia agak diam tapi tak pernah henti-hentinya melakukan hal-hal yang membuatku malu sebagai seorang teman baiknya. Dia di juluki MASRAHMAT, tapi namanya memang banyak, sering

ku jumpai nama ABRAHAM, SUNAN KALIGANGSA, MAS ROHMET, MASYARAKAT, atau… mungkin itu tak perlu ku sebutkan karena itu memang tak bisa ku sebutkan.

Detik menunggu-pun di akhiri ketika seorang teman yang lain yang terakhir datang dengan perasaan yang mengguncang jiwanya. Sempat ku dengar kata-kata yang membuat suasana di ruanganku yang saat itu masih berantakan menjadi tenang seolah-olah hanya suara gesekan angin dan daun yang saat itu masih kecil bergemencingan merasakan suasana yang memang sepi.

“ Mbang… sorry, aku tidak bisa ikut”.

Itulah kata-kata yang pertama kali DITHA katakan kepada Bambang dan kami serta aku yang mewakili diriku.

“Ke dua orang tuaku tidak mengijinkanku, jadi maafkan aku”. Dengan sedikit kecewa dan sedikit bercanda, Bambang menjawab pertanyaan Dita itu dengan kalimat ,

“Lalu… bagaimana dengan bekal yang sudah di beli, bagaimana dengan peralatan yang sudah di

persiapkan, bagaimana dengan apa yang sudah di rencanakan…!!”.

Aku sangat tidak tahu apa yang di rencanakan Dita, begitu pula dengan Bambang, Rohmat, A.N.R dan Eko w.s.

Saat situsi disaat itu mencapai pada klimaksnya, akhirnya ku dengar kata-kata yang membuatku marah, begitu juga dengan lega yang terucap dari mulut yang saat itu mencoba membuat marah dan tercengang,

“Aku bohong”

kalimat sederhana itulah yang membuat timku menjadi

kembali bersemangat dan dengan terbelinya tiga pasang sarung tangan yang dibeli saat jarum jam tepat berdiri tegak di puncak

angka yang terletak di dinding itupun persiapan pemberangkatan dimulai dengan melakukan shalat dan doa untuk keselamatan perjalanan saat ini.

“Mah……..,Aku berangkat “ itulah ucapanku yang ku ucapkan kepada Ibuku yang menungguku berangkat, sambil ku cium tangannya aku berdoa kepada ibuku “Assalammuallaikum” ,sewaktu temanku berada di luar rumahku dan bersiap untuk pemberangkatan, aku pun melangkahkan kakiku yang siap untuk pemberangkatan yang akan ku mulai sesaat lagi.

Perjalanan itupun dimulai dengan sebuah mobil yang melaju kearah timur dengan kecepatan rata-rata yang tak sama dengan lajunya mobil saat malam hari. Turunlah kami dan niklah kami ke sebuah mesin berkaki empat yang lebih besar daripada sebelumnya, dan mengantarkan ku bersama mereka menuju pertigaan Guci (Yomani ). Mulai dari sinilah gerbang pengalamanku dimulai.

Sampailah aku bersama teman-temanku di Guci dengan cuaca yang membuat-ku ragu untuk melangkahkan kakiku yang dingin ini ke sebuah wilayah semak belukar yang ditumbuhi beberapa pohon pinus yang bagaikan melambaikan tangannya kepadaku. Terang saja, sebenarnya saat itu aku banar-banar takut yang mencekam dengan pandangan yang gelap akibat tebalnya kabut putih yang menyelimuti gunung angker ini, diantara tiga pohon pinus yang menyerupai segi tiga

kematian yang pernah kubaca disebuah buku tua yang pernah ku pinjam dari teman, aku dan mereka memasrahkan tenda itu di antara ke tiganya.

Berbagai suara sempat ku dengar dengan jelasnya dan sesaat setelah tenda itu didirikan, setelah mulai shalat Maghrib tak ku sadari hujan membuatku masuk tenda, “dingin….dingin….” itulah kata-kata yang sering di ucapkan seakan-akan sangat butuhnya aku dengan kata-kata itu.

Malampun semakin larut, suara binatang malam yang mengisi kekosongan malam mulai menyanyikan nada-nada menakutkan yang melantun di bawah gumpalan kabut tebal yang menyelimuti tenda kami yang saat itu basah dan tidak ada celah untuk kering menempati didalamnya. “srupuuuut….” terdengar suara tegukan air dari samping tempatku yang tak jelas dari mana arahnya, kucoba meminta baterai dan mencarinya dengan penuh gelisah. Kulihat kaki yang pucat, mata yang cekung dan bibir yang begitu kedinginan terlihat begitu jelas. Masrahmat berusaha menghilangan dinginnya malam dengan sedikit air yang panas yang sengaja dibuat untuk malam itu.

Tibalah waktunya saat malam yang semakin larut menyelimuti tenda kami yang memaksa ku untuk tidur di dalam pelukan dingin yang terasa sampai dalam nafasku. Air mulai masuk ke dalam tenda kami, lantunan nada menakutkan dari binatang malam semakin terdengar menakutkan.

Aku terlemah dengan situasi itu dan sejenak kupejamkan mataku yang terasa berat. Hanya beberapa hembusan nafas saja, aku terbangun kurasakan lagi dinginnya malam. Diluar tenda terdengar beberapa suara yang seakan- akan mendekati

kami, semakin dekat, lebih dekat, dan dekat lagi. Perasan itu di rasakan oleh temanku Ditha, dia merasakan seseorang datang ke tenda kami yang saat itu sepi dan tempat itu memang sepi, jauh dari pemukiman yang kami tinggalkan sore tadi. “Srek, srek , srek,” seperti suara kaki yang menyepak rerumputan dingin yang terselimuti kabut tebal malam itu, tenda dari pojok kami seakan-akan tersentuh oleh sebuah tangan yang semakin mendekatinya. “Hiiiiiy….!!!” dia terkejut dan menceritakan kepada kami bahwa ada sesuatu seperti tangan yang menyentuhnya dari luar tenda kami. Situasipun semakin mencekam ketika saat tidur, Bambang terjaga dan seolah-olah mendengar suara babi hutan yang berlari mendekati tenda kami dengan membelah semak-semak yang berada di dataran di atas tenda kami.

Akupun sempat merasakan keadaan janggal yang hanya aku sendiri yang merasakannya. Kudengar suara seorang pemotong rumput yang berada agak jauh dari tempat tenda ku. Aku memikirkannya sebagai hal yang biasa terjadi di hutan, tapi suara itu semakin mendekat, sempat ku berpikir, siapakah orang yang berani malam-malam memotong rumput di saat hujan disertai dinginnya malam yang membekukan. Temanku tidur dan ku coba keluar dari tenda walaupun rasa takut menyelimuti seluruh tubuhku.Tanganku bergetar saat kupegang

pintu tenda yang terkena hujan yang membara lebat. Aneh

sekali !!!, kulihat seorang pria agak tua berjalan dengan membawa karung rumput di pundaknya dan dengan topi jerami tua yang melekat di kepalanya dengan menggunakan baju putih agak compang camping , dengan sebuah parit di tangan

kanannya, dia terus berjalan di kelilingi asap putih yang membara di sekelilingnya. Dia senpat menengok ku dan tersenyum tipis, tapi aku tidak bisa melihat wajahnya sewaktu ku tutup pintu tenda dan kulari ke luar dari tenda itu sampai akhirnya ku terbangun dari mimpiku yang menakutkan itu.

“Huh ….Cuma mimpi !!”


Aku mengangkat tubuhku dan duduk dengan teman-teman ku yang saat itu sedang duduk sambil menunggu pagi datang. Sebelum subuh, kami memasak air untuk perbekalan esok hari dan kamipun nemasak mie untuk sarapan pagi kami .

Sinar mulai menerangi tempat kami memasang tenda dan dengan suara burung-burung pagi yang menyanyikan nada-nada dari alam yang mulai terdengar suara jernihnya air begitu manggodaku untuk menempelkan tubuhku kepadanya. Keluarlah kami dari tenda kami dengan perasaan nyaman dan segar dengan kesegaran alam gunung di waktu pagi.

Sungai yang di tujukan Bambang kami kunjungi dengan rasa lumayan enak karena sempat ku lihat Rohmat yang menanggalkan bajunya dan sempat beku karena tindakan Rohmat yang menurutku sangat membuatku hampir terasa beku. Di tengah dinginnya pagi yang kira-kira suhunya mencapai kurang lebih sepuluh derajat, Rohmat dengan kegiatannya yang sangat tidak lazim di lakukan oleh seorang yang merasa kedinginan terus melakukan mandi yang tidak bisa di lakukan oleh kami.

“ah…dingin sekali”

Aku sempat tak berani menempelkan tubuhku saking dinginya air yang terasa menusuk kulitku, tapi… semakin ku lihat Rohmat, Aku semakin berani untuk melakukan hal yang wajar di lakukan oleh kebanyakan orang, tapi Aku tak mengatakan bahwa yang di lakukan Rohmat adalah wajar, jadi persepsi ini sangat berbalik jika ku tujukan untuk Rohmat, atau… Rohmat-lah yang… sudahlah tak usah di teruskan mungkin itu tak termasuk dalam bagian cerita ini.

Semakin pagi, semakin menumbuhkan semangatku dan timku untuk inti dari cerita ini. Aliran darah di pembuluhku terasa sungguh deras ketika ku pikirkan petualangan di tengah hutan sambil membawa tas yang begitu berat dan keadaan yang sering ku impikan ketika novel tentang petualangan Aku baca dengan penuh serius. Pagi itu kami membagi tugas untuk perjalanan mendaki yang kami rencanakan waktu sebelum hari ini datang, Dita dan Bambang bertugas untuk mencari seorang yang mengetahui seluk-beluk gunung ini dan Rohmat, Eko W.s, Aku, dan A.N.R bertugas memasak sarapan pagi sampai dua orang yang bertugas mencari orang yang mengetahui gunung ini kembali.

Di sini terdapat suatu cerita yang unik yang di mulai dari tumpahnya mie yang sewaktu di masak oleh kami ber-empat ditumpahkan oleh Eko W.s. Eko yang gelisah dan bingung mencoba mencari akal supaya kejadian itu tidak di ketahui oleh Bambang, Aku hanya bisa tertawa dan melihat mie itu sudah

kotor terkena campuran tanah yang saat itu agak basah karena kabut waktu malam. Rohmat dan A.N.R-pun terkejut karena sarapan yang sengaja di buat sudah tercampur dengan tanah. Akhirnya Eko mengambil air di sungai dan mencuci mie yang jatuh itu sehingga terlihat bersih dan mengkilap.

“Sssst…jangan berkata kepada Bambang bahwa mie ini telah kujatuhkan” itulah permohonan Eko yang di sampaikan kepada kami ber-tiga yang pada saat itu sedang sangat kelaparan karena belum makan sarapan itu.

Beberapa saat kemudian munculah dua orang dari kejauhan yang sudah kami kenal, tapi ada seorang lagi yang agak tua tidak kami ketahui. Sampailah mereka ber-tiga tepat di tempat tenda yang waktu malam itu kami dirikan, tapi sekarang sudah tak tampak bentuk tenda lagi karena kami sudah memasukan tenda itu ke dalam…, oh… ternyata tenda itu tidak di masukan ke dalam tas, tapi Bambang melipatnya dan menyimpulkannya dengan tali dan mengikatnya di tas belakang, tapi… setelah di lihat-lihat sepertinnya bukan tenda yang di ikatkan di belakang tas bambang, Hmmm… sepertinya berwarna merah, dan itu memang berwarna merah dan ternyata terpal-lah yang tergantung-gantung di belakang tas Bambang yang terlihat rusak.

“Dari Brebes ya !!!”,

Ku perhatikan wajahnya yang terlihat agak segar yang

sepertinya malamnya di lewatkan dengan penuh di lewatkan sehingga terdengarlah suara yang agak halus tapi terdengar seperti suara orang tua biasanya.

“Ya…!!!” ,

“Hmmm…, jadi mas-masnya akan menaiki gunung Slamet ini ?” ,

“Ya…!!!”

Sempat terjadi dialog yang agak kaku ketika lontaran kalimat pertanyaan yang di ucapkan seorang yang sepertinya hapal betul dengan keadaan gunung yang sebentar lagi akan kami taklukan ini berkata dengan nada datar. Untuk menambah keakraban di antara kami, Bambang-pun tak kalah pintarnya merangkai alunan kalimat yang terdengar agak biasa dan sering ku dengar dari para orang-orang yang aku kenal sebelum ini.

“Kira-kira berapa jam supaya kami bisa mengalahkan gunung yang sering kami lihat dari kertas yang tergambar di sawah pinggir rumah-ku yang tak kusangka aku akan menaikinya ?!”

“Ya…!!!, paling ora patang jam, paling sue-ne loh !!! tapi yen mas-mas-se tah aku ora ngarti…”, Hmmm… kira-kira seperti itulah jika kata-katanya di terjemahkan dalam bahasa aslinya. Sebenarnya Aku juga sempat berpikir … “Bagaimana jika tulisanku ini ku tulis saja dengan kalimat sehari-hari-ku” atau mungkin, jika ku gunakan kata-kata seperti itulah malah sangat sulit untuk di baca, atau mungkin, Aku-lah yang tidak bisa menulis kalimat-kalimat seperti itu ?, Yah…paling tidak Aku cukup puas walaupun sebenarnya aku tidak mengerti untuk apa sebenarnya Aku menulis seperti ini….. , tapi itulah

kejadiannya dan memang seperti itulah kejadiannya.

“Kemarin ada beberapa rombongan mahasiswi yang mengunjungiku dan mereka membutuhkan Aku sebagai pemandu mereka untuk menaiki gunung ini ,”

massa…”

“Ya…!!!, dan mereka menaiki gunung ini dengan putaran jam yang tidak begitu lama, mereka menaiki gunung ini dengan empat jam sebagai waktunya .”

“Mahasiswi nya, apakah mereka cantik-cantik ?”

“Cantik-cantik mas, sampai saya saja bingung mau bagaimana ?!!”

“Asik…,oh !!!”

“Ya !!! tidak mas…!!!”

Senyum-pun terlihat di antara pipi Rohmat yang saat itu di penuhi bulu yang mungkin belum sempat di cukurnya saat hari keberangkatan itu. Aku-pun tak tahan untuk tersenyum melihat seperti itu dan keakraban semakin terasa dengan terdengarnya suara keras tawa Bambang yang mungkin hanya suara seperti itulah yang di miliki Bambang, dan kami semua tanpa sadar terbawa dalam suasana keakraban yang makin terasa.

“Mau berangkat sekarang mas…?”

“Bagaimana, apakah kita langsung berangkat atau…”, Pertanyaan yang belum sempat di akhiri Bambang tiba-tiba di kuasai oleh A.N.R dengan nada yang cukup jelas terdengar,

“Makan saja dulu Mbang ?!!”

“Iya…?”

“Ya!!!”

Permintaan yang terlontar sebelum kami benar-benar mendaki-pun terlontar dari mulut sang Bambang yang saat itu sepertinya juga terlihat menahan lapar.

“Baiklah Pak, kami akan makan dulu jadi mohon tunggu sebentar, monggoh pak makan ?!!!”

“Oh…tidak usah saya sudah makan tadi di rumah”

Angin-pun sedikit demi sedikit mulai berterbangan dengan tanpa sayap menghampiri kami. Aku menjadi merasa seperti seorang tokoh idolaku yang sering ku perhatikan setiap gerak-geriknya, Aku sering memandangnya dan terlihat jelas wajahnya yang agak keriput dan matanya yang biru, alis yang sedikit mencokelat, kulit yang sedikit terbakar matahari dan yang menjadi ciri khasnya, yaitu topi seorang petualang yang agak lebar berwarna cokelat, ya, dia adalah Mr. Jones seorang dosen fakultas Arkeologi yang selalu berselisih dengan Hitler untuk mendapatkan situs-situs purbakala yang menjadi benda idolaku waktu itu.

Langkah kakikupun terus ku ayunkan sedikit demi sedikit, ku gerakan setiap inci penglihatanku menuju segala penjuru langit yang tak terlihat bintang, Panasnya kabut malampun yang aku rasakan kemarin sudah sempat tak kurasakan lagi. Peniup-peniup seruling malampun sedikit yang kudengarkan, sisikan-sisikan pohon masih jelas terdengar di dalam gendang telingaku yang masih sehat ini, mata air yang jelas terdengar menjadi semakin buram dan semakin buram, Sang murai-pun semakin terlihat memandang rombongan kami

dari atas sambil menyanyikan lagu pagi kepada kami, didalam hatiku aku berdiam, menghentikan langkah kakiku dan…… Aku sempat bercerita pada hatiku “ Mengapa Aku harus melakukan ini, mengapa aku harus berjalan menelusuri semua yang ada di depanku, mengapa aku harus mencapai

tujuanku di puncak sana, mengapa semua jalan yang kami ambil pasti menemui rintangan, padahal semua orang tidak mengetahui apakah peran mereka hidup di dunia ini. Ku rasakan lagi angin yang mengenaiku, Aku hening sejenak dan berusaha terus berjalan walaupun semua rintangan terlihat jelas di depanku. Tiba-tiba Aku terlelah, begitu terlelah dan sangat lelah yang kurasakan, Aku berusaha mengatakan sesuatu sebelum mereka beristirahat,

“Mbang……” sebelum pertanyaanku benar-benar terlontar ternyata….

”Woiii….istirahat dulu ya!!!” sempat aku tersenyum, ternyata seorang di antaraku mendahuluiku mengucapkannya.

Ku telentangkan kakiku yang begitu berat kurasakan dengan aliran deras darahku yang begitu jelas kurasakan. Tanganku kubiarkan tak berdaya tergeletak di atas tanah yang terasa dingin, tubuhku menguap, pandanganku tertuju ke atas, sempat ku tutup sejenak mata ini dan kurasakan lelah seluruh tubuh ini. Ku ambil botol yang terdengar suara tipisnya air yang begitu lembut menggodaku, ku teguk sedikit dari air itu, kurasakan aliran air yang mulai turun dari kerongkonganku, tapi hanya sesaat kurasakan itu, dan setelahnya adalah rasa lemas, kesel, dan tak berdaya.

Kurang dari satu jam, instruksi pemberangkatan dilambaikan, kami bersiap. Ku gendong tas yang terlalu berat ini, yang terasa memberatkanku. Bendera Merah-putih yang menempel di tasku agak kotor karena debu yang menempel dalam perjalanan ini, tapi tetap kujaga Sang Merah-putih ini agar tetap terlihat Merah dan Putih.

Semakin lama perjalanan ini tidaklah semakin mudah, tapi terasa semakin begitu berat dan penuh rintangan yang menghadang kami. Tak banyak suara yang kami keluarkan dalam perjalanan ini, kami hanya memandang jalan kami, memandang ke atas dan terus memandang jalan perjalanan ini.

“Masih jauh pak…!!!”

“Masih jauh mas…pertengahannya saja belum sampai”.

Semangatku semakin memuncak, tapi rasa putus asa juga sempat terbayang di depanku. Petualangan yang tergambar dalam novelpun sudah tak kupikirkan lagi, hanya rasa lelah yang membayang di depanku, tapi terus saja ku langkahkan kakiku, kulangkahkan walaupun seribu langkahan sudah ku langkahi.

Sampailah kami di suatu tanah yang agak luas dan ku lihat papan yang tertempel di sebuah pohon besar yang bertuliskan PONDOK CEMARA

“Sudah sampai di pertengahan mas….”

Massa Pak ?”

Tak terasa perjalanan yang telah kami langkahi langkah demi langkah akhirnya menghasilkan pertengahan pendakian kami. Di ambilah kotak hitam yang sering dinamai Kodak oleh kebanyakan orang. Rohmat tidak masuk dalam barisan, dia tertugasi mengambil gambar dari kami dari tempat yang agak menjauh dari kami.

“Ckrek …!!!”

Tergambarlah enam pendaki sejati yang sedang terlelah menunggu datangnya puncak Slamet yang terlihat eksotis di bayangan kami. Dengan bendera biru yang tergenggam di

tangan kami yang bertuliskan Tim 1.8 kami siap kembali menghadapi separoh dari perjalanan ini.

Diambilah tas yang tadi tergeletak, Pandangan tertuju ke depan, langkah di ayunkan dan berangkatlah kami menuju puncak G. Slamet. Perjalanan jauh terasa lebih ringan, Tak seorangpun dari kami berkata sepatah katapun, hanya keributan antara burung-burung indahlah yang masih terdengar seperti suaranya yang terbang menghampiri seorang yang sedang menunggu.

Perjalanan seemakin mendekati akhir, kudengar suara jeritan nyaring dari barisan ke tiga di belakangku, tubuhnya hampir kaku, matanya lemah, dia terbaring sembari memegang kakinya yang tegang akibat terlalu tenangnya dalam perjalanan ini. Dia berteriak, mengerang, dan memasrahkan semuanya pada kami.

Kulihat pemandu kami menghampirinya, memegang kakinya dan terpaksa menghentikan perjalanan yang tertuju pada akhir ini.

“Mbang…Aku tidak mampu…Mbang….” Suaranya terdengar meyakinkan, terlelah dan hampir tak terdengar.

Hanya suara yang tertusuk yang masih jelas terdengar diantara kami yang sedang terlelah.

“Masih kuat Mat…?”

“Nanti….”

“Akh…..”

“Kau sudah kuat ?….”

“Lanjut….”

Perjalanan kami sambung kembali bagaikan benang yang tersambung lagi walaupun layangannya tak tergapai. Dan tanpa disadari, sampailah kami di sebuah tanah yang agak datar dan beristirahatlah kami melepaskan semua senjata kami yang telah kami juangkan sampai sejauh ini. Terasa nyaman tubuhku, terasa segar udaraku, terasa terlelap Aku hingga akhirnya tercium sebatang aroma masakan dari sebuah kompor yang sengaja kami bawa, walaupun sangat sulit membawanya tapi akhirnya terbawalah kompor itu sampai perempat perjalanan kami di G.Slamet ini.

Kami masukan semua yang memberatkan perjalanan ini dan kami buang semua yang ringan dalam perjalanan iniTertujulah puncak yang kami harapkan tapi masih kami harapkan karena belum ku lihat sesuatu yang terbentuk seperti puncak. Kaki terus di gerakan tak terpeduli sesuatu yang menghalangi kami, rasa lelah masih menyelimuti seluruh tubuh, udara semakin terasa, wahana alam semakin sering kami lihat, kinciran angin terus memutar, waktu tak henti-hentinya berjalan di belakang kami dan akhirnya…

“Akh…!!!”

Ku dengar suara serupa yang tadi ku dengar sesaat beberapa jam yang lalu, wajahnya semakin memucat, kakinya terus dipegang, matanya terlelap menahan tawa dari seluruh alam yang melihatmya. Kulihat begitu sayangnya perjalanan

yang terasa sulit ini ternyata terbelenggu karena rasa yang sangat sulit ku bayangkan, Aku terdiam, ku jatuhkan tubuhku dan hanya inilah yang bisa aku lakukan, terduduk, terdiam, dan hanya terbawa dalam suasana sesaat itu.

Bambang memegang kakinya, dia berlagak memerankan sebuah peran yang sangat berbalik darinya, wajahnya mulai serius, pandangannya tertuju pada kaki Rohmat dan tak sekalipun menghiraukan kami. Ku lihat awan yang tak tampak terlihat, kudengarkan suaranya, menghayal dan terbang dalam imajinasiku. Ku pegang dedaunan yang dingin, Kurasakan tubuhku yang panas dan mengalirah kekuatan dari alam sehingga akupun semakin tegar menghadapi berbagai sesuatu yang belum pernah ku alami.

Rohmat berdiri tegak, matanya semakin tajam, giginya terlihat menahan tangisan dalam hatinya yang tersayat karna sedikit luka dari kakinya itu.

Kaki kembali terlangakah, ayunan kaki mulai melemah tapi semuanya tetap ter arungi walaupun semua jelas ada di depan kami.

Jalan semakin naik, kami hanya berharap bisa kembali

menuruni segala yang kami gapai karena akhirnya kami akan turun juga, seperti dalam kehidupan, Awal dari semuanya adalah sebuah kaki gunung, kemudian dengan segenap tenaga dan perjuanagan berjuang untuk mencapai tingkat kesuksesan, dan setelah berada dalam puncak kesuksesan, suatu saat nanti

pasti akan menuruni bukit yang dia daki dan saat itulah kami berusaha mendakinya sekuat tenaga kami.

Jalan berliku, pohon-pohon jelas terlihat gagahnya menghadang jalan kami, satu demi satu kami lewati, hutan semakin jarang dan….

Kulihat wilayah bebatauan di atas kami dan seorang pemandu kami berteriak “ KITA SUDAH SAMPAI DI PERBATASAN !!!” Ku ayunkan kakiku sekuat tenaga, ku pegang berbagai tanaman yang ku pegang, kami bersemangat dan semakin bersemangat. Jalan yang terlihat sulit menjadi mudah dan….


Sampailah kami di perbatasan G. Slamet

Cakrawala dan Galas.

Hal yang pertama kali kami lakukan adalah solat. Kugunakan kompasku untuk menentukan arahku, kuambil sedikit air dan kemudian kugunakan berwudu dan solatlah kami.

Tenda didirikan, Api dinyalakan, sentuhan kabut semakin mengenai kami dengan lembutnya yang saat itu bayangan kami masih terlihat dua kali dari kami.

Belum…., Kami belum sampai ke puncak perjalanan ini, ini hanya perbatasan antara puncak dan hutan. Dan aku belum

pernah menceritakan puncak pada kalian, Apakah aku harus mengakhiri tulisanku sampai di sini ?, Aku sudah lelah dan ingin melepaskan semuanya dan ku tinggalkan yang terlihat di depanku ini, tapi sempat terlintas di kepalaku “Apakah setelah mengawali kau tidak bertanggung jawab untuk mengakhiri ?” Akhirnya akupun setuju dengan pendapat itu dan mulailah ku angkat penaku, ku curahkan pikiranku dan mulailah ku tulis kata demi kata yang sedikit lagi akan kalian dengarkan dariku walaupun tulisanku agak berantakan tapi aku berterima kasih pada kalian karena kalian masih memegang cerita ini dan dengan setia masih membacanya.



Malam kembali datang, dingin kembali menghampiri kami, … ada yang berbeda di sini, Kami tak mendengarkan suara apapun, lima hewan, tidak…,tiga hewan…tidak…,dua binatang…tidak…, bahkan satu hewanpun tak kami dengarkan, mungkin inilah yang di sebut malam di tempat yang mendekati puncak. Sungguh tak ada sesuatupun yang kami dengar, hanya bintanglah yang jelas terlihat memenuhi kekosongan langit, Aku hanya melihat keatas dan… sungguh indah sekali bintang di atasku, menyinari kami dan terlihat begitu cantik. Tak pernah ku lihat bintang yang begitu indah seperti ini, paling hanya saat aku berada di G.Kumbang, saat itu terlihatlah bintang yang membentuk sebuah gugusan yang berbentuk spiral dikelilingi awan yang bertaburan bintang yang sungguh sangat banyak terlihat, indah…dan sungguh indah…

Ku gunakan mataku yang terbatas ini menyaksikannya, Ku rekam dalam ingatanku dan ku simpan dalam tubuhku ini.

Dingin semakin terasa, Aku kedinginan, tubuhku mulai kaku, ku coba memejamkan mata ini tapi… “dingin…dingin….hanya dingin yang terasa” Aku terus terjaga, tubuhku bagaikan di tembus oleh beberapa pisau, dingin…sangatlah dingin…, Ku lihat Rohmat, dia terduduk, tubuhnya meringkuk dan bergetar seluruh tubuhnya. Hampir-hampir dia tak kuat menahan dinginnya suhu yang saat itu sampai 6 derajat.

Cahaya dari luar terlihat, dengan nyalanya sebuah api yang sengaja di nyalakan untuk penawar kami, tapi…tetap saja masih dingin dan akhirnya kamipun menyerah dan berusaha tidur dengan tak bisa tidur. Sedikit-sedikit kami tidur dan sedikit-sedikit kami terbangun, terjaga karena menahan dingin di seluruh tubuh, hanya dingin yang terasa, dingin…dingin….dingin….ding…..in…..ding……di……d…..d…….d…

Pagi terlihat, Cuaca masih terasa, semua baju yang ada di dalam tas kami pakai, masakan siap dimasak dan puncakpun semakin bersemangat. Kuhangatkan seluruh tubuhku sembari menunggu mie yang kami masak sedikit matang. Langsung saja kami santap sedikit makanan itu yang mungkin berguna untuk perjalanan lanjutan kami.

Peralatan kami tinggal, hanya kodak dan sedikit yang mungkin diperlukan di atas sana dan sebuah tongkat yang berguna untuk perjalanan kami.

Terlihat hamparan batu yang menjulang di atas kami dan………...inilah puncak G.Slamet. Sebuah wilayah bebatuan berpasir yang jika semakin ke atas akan di jumpai sebuah kawah lebar sebuah inti dari perjalanan ini. Kami mulai menginjak batu itu dan menaikinya. Belum lama ku langkahi beberapa batu yang terjal, kulihat……

Sebuah keindahan yang luar biasa, Ku lihat segala jalan yang kami lewati kemarin sangat jelas terlihat di depanku sendiri, kaki gunung yang luaspun terlihat dengan jelas bersama awan yang menyelimutinya, seluruh kota sangatlah tampak kecil dan sebuah kemercingan laut Jawa terlihat sungguh menyiulaukan. Dan jika semakin ku pikirkan…”AKU BERADA DI ATAS AWAN, WOOOW……!!!” indah sekali, sungguh indah, indah dan indah…

Langit terlihat semakin biru dengan tanah hitam berbatuan di bawahnya, sedikit asap terlihat dari kawah G.Slamet Kamipun bersiap melihat keindahan yang lebih menakjubkan dari apa yang kami lihat. Tak ada suara mobil, bahkan suara burung pagipun tak satupun terlihat. Mata hanya memandang bebatuan yang menanjak dan jernihnya langit pagi yang begitu mengesankan. Udara terasa menyempit tapi tak kami hiraukan untuk sampai di puncak sana, semakin kami lalui jalan ini, semakin besarlah taruhan yang di taruhkan untuk menebusnya, dan ini adalah suatu ajang perjudian dimana kami menaruhkan taruhan nyawa dan alam menaruhkan keindahannya.

Ku pasang taruhanku dan ku siap melangkahi awal permainan ini. Aku berjalan dengan hati-hati dan sangat hati-hati. Semakin hati - hati perjalananku semakin terasa melelahkan dan sempat ku lihat temanku yang ceroboh dan menganggap sesuatu yang hati-hati adalah ceroboh terpeleset dan memasrahkan dirinya pada sebuah batui kecil di atasnya.

“Mbang…., tolong Mbang…” teriakannya terasa nyaring sampai-sampai mataku ini ngeri melihatnya. Wajahnya tersenyum meratapi semuanya telah ada dan hanya bisa berkata “Mbang…, tolong Mbang…”. Tubuhnya terbujur lemas, penglihatannya tak terpandang, jantungnya berdegup kencang merasakan kehidupan diantara kematian. Mungkin itulah wajah orang yang menyesal kemudian karena gerak tubuhnya hanya mengikuti alur dari sisi gelap dan tak pernah terpikirkan apakah arti dari keterangan itu.

Bambang menghampirinya dan kulihat tangan Bambang yang agak kasar memegang tangan Ditha yang terlambai lemas dan hampir tak terasa arti dari tangannya itu hari ini.

Ditha terduduk, mengatakan beberapa kata yang menyatakan ketidaksanggupannya melanjutkan perjalanan ini. Matanya menyesalinya dan tangannya mengakui keputus asannya menit ini. Perjalanan terlanjut dan beberapa wilayah bebatuan telah kami lalui hingga sampailah kami pada tingkatan terakhir tantangan gunung ini.

Sebuah wilayah pasir menjulang, membentang hingga sampai di sebuah ujung sana. Batas terakhir dari gunung ini sudah terlihat jelas, kawah menanti kami di atas sana, Aku sempat berpikir….

”ini adalah kawasan pasir, mendakinya berarti kutinggalkan semuanya, orang yang ku kenal, orang yang selalu mendukungku, membelaku, menjagaku dan orang yang aku cintai…” Ku urungkan niatku dan tak salah lagi, ku dengar suara jelas dari sisi kananku yang berkata

“Mbang Aku hanya cukup sampai di sini, Aku tidak kuat dan tidak sanggup”. Beberapa rekanku pun mengatakan hal yang sama hingga akhirnya kuikuti kata-kata mereka dan ku rasakan perjuanganku yang telah kulalui dari hari kemarin.

Bambang melanjutkan perjuangan kami, kami menyalaminya dan menepuk bahunya. Ku titipkan sebuah pesan padanya yang ku tulis pada selembar kertas yang kira-kira begini bunyinya

KAMI ADALAH TIM 1.8, PADA HARI INI SENIN, 19 APRIL 2004, TELAH MENCAPAI PUNCAK G.SLAMET YANG BER ANGGOTAKAN :

1. BAMBANG SUNARYO bin ……………

2. DITHA PERMANA bin ……………

3. SULUNG BUANA bin ……………

4. ABDUL ROHMAT bin ……………

5. AHMAD NUR ROKHADI bin ……………

6. EKO WAHYU SORANTA bin ……………

G.SLAMET, 19 APRIL 2004

TIM 1.8

5 komentar:

  1. weeh mantap bang, pertualangan sangat luar biasa...

    salam kenal

    BalasHapus
  2. jamari baru coba menjamah sebuah makna..
    dimana wahai yang bersemanyan dibalik dinding2 maya...
    bijak senja berada diantara bait2mu..
    menyatu bersama wajah2 pencinta sajak2 ranum sepertimu...
    diantara beribu bintang2 dipelataran bijakmu...
    berkisar satu mengandung sejuta makna dibalik tabir rahasia..
    yang berjalan tanpa hala..

    "ku mngajak mu d sidji wolu"

    BalasHapus
  3. http://dimensiluar.blogspot.com/

    BalasHapus
  4. http://aceh-forum.blogspot.com

    BalasHapus
  5. WIHHH...

    PERJALANAN YANG MANTAP.....................

    BalasHapus