Minggu, 07 Juni 2009

ADVENTURE TO KALIGUA (PAGUYANGAN) Part 1

Kelas satu SMA merupakan pertemuan pertama kali saya dengan teman-teman lingkungan yg sangat berbeda. Di kelas satu inilah saya mulai mengenal satu demi satu teman-teman saya, beberapa di antaranya adalah Bambang, Dhita, Sulung, Bayu, Dono (Kusnodo), Tomy, Simbrong (Abror), dan saya sendiri Rastono. Tanpa terasa waktu terus bergulir dengan cepat, sehingga tanpa sadar kamipun harus menghadapi ulangan Semester 1 yg merupakan pengalaman baru bagi kami. Sebelum menghadapi semester, kami sudah mulai merencanakan untuk mengisi liburan semester kami. Akhirnya kami merencanakan untuk mengisinya dengan menjelajah alam, tapi kami bingung tempat apakah yg harus kami kunjungi untuk petualangan kami. Salah seorang dari kami mengusulkan agar kami menjelajah sebuah alam yg terletak di sebuah desa terpencil di wilayah Bumiayu yg katanya terdapat sungai perbatasan yg sangat dingin dan terdapat juga sebuah mata air panas yg menggenang di sebuah genangan tanah yg lumayan luas dan tak pernah berhenti airnya yg terdapat di sebuah wilayah yg untuk mencapainya harus melewati hutan pinus terlebih dahulu dan jalan setapak yg menghubungkan ke wilayah itu, tempat yg sepi yg sangat pas untuk mengadakan peristirahatan sebelum menjelajah lebih jauh. Akhirnya kamipun sepakat untuk menuju ke tempat yg di usulkan salah seorang dari teman kami, dan bersiap mengadakan petualangan pertama kami di kelas kami yg tergolong masih baru bagi kami. Kamipun akhirnya pulang ke rumah kami masing-masing setelah mengadakan keputusan yg telah di sepakati di rumah Sulung, teman kami.

Seminggu sudah berlalu, kami pun sudah harus siap menghadapi semester 1 (satu) Seperti biasa, setelah mengadakan class meeting untuk mengisi waktu luang sampai nantinya raport di bagikan kepada siswa. Hari pembagian raport pun tiba yaitu hari sabtu. Selesai menerima raport kami berdelapan pun mengadakan musyawarah kembali di rumahnya Sulung, untuk mempersiapkan segala sesuatunya, karena keesokan harinya yaitu hari minggu kami harus berangkat. Selain itu kamipun memusyawarahkan mengenai nama tim kami. Setelah beberapa lama kemudian kami pun bersepakat untuk memakai nama tim kami dengan “Tim 18”. Karena pada saat itu kami menempati kelas I 8 dan jumlah kami pun 8 orang. Jadi kami rasa nama itu cocok bagi tim kami.

Hari minggu merupakan hari keberangkatan kami, sebelum kami berangkat kami berkumpul mempersipkan segala sesuatunya. Selain itu kami pun tidak lupa berdoa agar kami selamat dalam perjalanan. Pada awal pemberangkatan kami diantar ke terminal Tegal dengan menggunakan mobilnya Sulung. Setelah sampai di situ kami berhenti dan turun, kemudian kami menuju bis yang akan kami naiki yaitu bis “KURNIA”. Sekitar pukul 9.30 bus yang kami tumpangi segera berjalan menuju tujuannya dan perjalanan kami pun dimulai.

Beberapa lama kemudian kami sampai di Bumiayu, tepatnya di pasar Bumiayu. Di situlah kami turun untuk mencari teman Sulung yang bernama Sobirin dan akhirnya kamipun menemukannya. Setelah itu kami shlat dzuhur dan istirahat sejenak sambil memakan makanan yang kami bawa. Di Masjid itu kami minta bantuan teman kami Sobirin untuk mengantarkan kami ke tempat yg kami rencanakan dan diapun menyutujuinya. Beberapa saat setelah itu kami berangkat dengan menggunakan elep. Sesampainya kami sampai di pertigaan jalan tanjakan kamipun turun. Dari pertigaan itu kami berjalan menunggu mobil yang akan menuju ke puncak bukit. Kebetulan pada saat itu ada sebuah mobil yang kami maksud dan akhirnya kami naik. Dalam perjalanan itu sangat menyenangkan. Betapa tidak keindahan alam pegunungan yang begitu indah dan ramah dengan udara yang dingin dan sejuk sungguh sangat menyenangkan. Betapa indahnya Tuhan menciptakan alam ini dengan seluruh keseimbangannya,

Tak terasa kami segera tiba ke tempat tujuan kami. Sebelum kami tiba pintu masuk perkebunan teh, kami berjalan beberapa meter dari tempat kami turun dari mobil. Setelah kami sampai di pintu masuk, kami masuk ke pos 1, di sana kami membayar tiket menuju ke pos 2,3 untuk memberitahu kedatangan kami. Setelah kami memperoleh persetujuan dari penjaga kami segera menuju objek yang kami tuju. Setibanya di sana kami mendirikan tenda di sebuah lapangan sepak bola. Setelah itu kami beristirahat sambil memasak air dan makan makanan yang kami makan.

Tanpa terasa matahari meredupkan sinarnya dan langitpun meneteskan air matanya dan memebasahi bumi di tenda yang kami dirikan . Pada saat itulah datang 4 orang yang terdiri dua laki-laki dan dua perempuan mereka tidak lain adalah orang sedaerah kami yang berasal dari SMA PGRI. Hujan pun semakin deras sehinga kami harus membantu mereka untuk mendirikan tenda yang mereka bawa. Sore berganti malam, sungguh dingin di tempat ini dan hujan pun turun dengan deras sehingga terpaksa kami harus pindah ke sebuah gedung kosong sebagai tempat istirahat kami sekalian istirahat, kami bermain tenis meja dengan seorang penjaga kebun teh karena disini terdapat fasilitas tersebut. Malam semakin larut dan akhinya kami memutuskan untuk tidur, tetapi sebelum itu kami makan dulu.

Pagipun tiba, sang surya mulai menampakaan sinarnya kicau burung sahut menyahut, gemrincing air terdengar bagai alunan lagu (PETERPAN) sungguh handal ciptaan sang PENCIPTA. Dengan kejernihan air yanng membiaskan cahaya sang surya kamipun segera bersiap untuk penjelajahan disekitar hamparan kebun teh KALIGUA. Target pertama kami adalah makam keramat yang terletak pada bukit yang sedikit agak curam yang tidak lain adalah MAKAM MBAH DJOKO yang terkenal cukup angker. Disitu kami mulai mengamati makam tersebut dengan segala konsekuensinya, walau perasaan takut meliputi kami. Kamipun melanjutkan menuju ke target berikutnya “GUA JEPANG” yang terletak dibawah bukit yang agak jauh dari makam mbah joko . Sebelum kami memasuki GUA tersebut, ada waktu untuk istirahat sejenak sambil melihat keaadaan disekitar. Tak seberapa lama kamipun segera memasuki mulut gua

“haa….payah nih terkunci” kata yang muncul diantara kami. Tak seberapa lama ada seorang yang menghampiri kami

“mas mau apa?” sahutnya.

“Ini Pak kami mau masuk ke Gua tapi …terkunci!”.

‘Oh….Ini bapak ada kuncinya” sahutnya “Ayo mas masuk !”. kamipun segera masuk dengan bantuan juru kunci tersebut. Memasuki Gua tersebut bulu kudukpun mulai berdiri, kegelapan gua itu terus membuat kami bertanya ?

“mana ujungnya ?????” kami terus masuk kedalam Gua tanpa alat penerangaan yang memadai hanya sekedar obor dadakan dan sebuah senter kecil, perasaan mrinding terus meliputi kami. Sambil berjalan menelusuri lorong Gua yang hampir tanpa ujung, kami melihat berbagai macam sudut dan ruang –ruang yang sengaja dibuat untuk dijadikan penjara bagi para pekerja ROMUSA yang mengerjakan penggalian Gua tersebut. Selain itu ada juga sungai yang mengalir di Gua tersebut yang baru saja kami sadari. Sungai di Gua tersebut sungguh mengesankan bagi kami. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus kelelawar bergelantungan diatas kami

“sungguh menkutkan…” sahut kami.

Penelusuranpun terus berlangsung, tak terasa kamipun sudah sampai ke mulut gua yang lain. Kamipun melongok keluar gua dan melihat ke segala arah yang tentunya mampu untuk kami pandang, ternyata kami berada diatas sebuah sungai.

Kami mulai merasa lelah setelah bertegang-tegang ria, kamipun istirahat sejenak sambil duduk-duduk melihat keindahan yang diciptakan oleh sang PENCIPTA memang membuat diri kita terasa jauh lebih tenang dan mengingatkan betapa kecilnya diri kita dengan apa yang telah diciptaka-NYA di dunia ini. Sesaat setelah merenungkan diri dan mengoreksi diri akan kekurangan yang kita miliki dan kebesaran yang telah Ia ciptakan untuk makhluk-NYA kami meneruskan perjalanan untuk keluar dari GUA JEPANG. Ternyata untuk keluar dari gua hampir sama sulitnya ketika masuk ke dalam gua. Sekeluarnya kami dari Gua, kami mengumpulkan uang ala kadarnya untuk diberikan kepada juru kunci sebagai ucapan terima kasih kami.

Kami melanjutkan perjalanan untuk menelusuri bukit-bukit lainya untuk melihat hamparan kebun teh dari sudut yang lainya. Tak lama kami berjalan kami sampai kesebuah mata air yang sangat jernih sangat jernihnya mata air ini orang-orang sekitar menyebutnya “TUK BENING”. Disana kami sempat minum bahkan mandi untuk membersihkan diri.


“Uh ……dingin” sahut temanku, ya memang dingin air di tuk bening kalau ka’ga percaya datang saja, dan rasakan betapa dinginnya air di tuk bening. Kami sempat membawa satu botol AQUA (bukan promosi lho…) untuk diberikan kepada teman-teman kami yang tidak ikutan (yang Rugi) air tersebut kami sering menyebutnya “AIR DEWA”, karena air tersebut kami bawa dari mata air yang tak tahu dari mana asalnya!, lagi pula air tersebut kami minum tanpa direbus terlebih dahulu, sehingga kemurniannya tetap terjaga. Tak terasa sang Surya sudah ada tepat diatas kami, kamipun segera menuju ke tempat peristarahatan kami untuk makan siang kemudian “SHOLAT DHUHUR BERJAMAAH” kan sebagai orang yang berIMAN.

Dari tempat peristirahatan kami memutuskan untuk segera pulang mengingat bekal makanan kami yang sudah ludes des…des!. Kami terpaksa berjalan dengan tenaga yang baru saja kami dapatkan menuju ke pintu ke luar kebun teh. Sesampainya kami dipintu keluar kami masih harus menunggu kendaraan yang akan membawa kami kembali ke asal. Namun penantian kami menjadi sia-sia karena tak satupun ada kendaraan yang melintas. Dengan terpaksa kamipun berjalan kembali menelusuri jalanan pedesaan sambil menunggu mobil yang lewat. Seandainya jalananya tidak naik turun kami pasti tidak akan lelah (karuan). Kami benar-benar lelah, bayangkan saja kami berjalan dari perkebunan sampai ke TELAGA RENJENG, betapa jauhnya perjalanan yang harus kami tempuh BY CYCLE. Di TELAGA RENJENG kami menyesal karena kami tidak bisa masuk ke dalam telaga tersebut karena terkunci dengan gembok yang cukup besar, seandainya kami melompati pagar kami mungkin bisa masuk, tapi terlalu banyak orang yang mungkin akan meneriaki kami maling. Kamipun masih melanjutkan perjalanan kami BY CYCLE sambil mencari mobil yang dapat membawa kami menuju ke bawah bukit (pasar Bumiayu), kami bahkan mengaweh-awehkan uang RATUSAN RIBU agar ada kendaraan yang mau membawa kami, namun itu sia-sia. Kamipun beristirahat,

“Dih ….. duit satus sewu langka sing gelem” cerutu salah seorang temanku.

Ada mobil lewat!!!, Ayo kita stop!!!” sahut temanku. Akhirnya tawar punya tawar kamipun bisa juga pulang Alhamdulillah. Petualangan menelusuri sejarah kebun teh KALI GUApun terselesaikan dengan membawa berbagai pengalaman yang sangat menarik , sehingga kami dapat menceritakan ke dalam tulisan ini.


Tim 1.8 :

Bambang, Ditha, Sulung, Rastono, Kusnodo, Tomy, Bayu, Sobirin